Yuki ZR

Handgloves

Melancong ke Kuala Lumpur

Terinspirasi oleh buku Self Driving – Rhenald Kasali yang dibeli pada tahun 2014, tertulis beliau mewajibkan mahasiswanya untuk memiliki paspor / surat izin memasuki dunia global.

Menurutnya tanpa paspor manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Aturannya sih tidak boleh ke negara Malaysia, Singapura, Brunei, ataupun Timor Leste tetapi untuk saya pribadi tak apalah untuk langkah awal.

Beliau berujar bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran, dan buang-buang uang.

Maka tak heran menurutnya banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri, padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.

Bisa mendapatkan sesuatu yang tak terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Lalu para mahasiswanya yang ditugaskan ke luar negeri pun secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh lalu rasa percaya diri mereka bangkit.

Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar, dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Kesempatan itu pun datang 3 tahun kemudian….

Pada bulan Juni 2016 ada promo tiket murah seharga kurang lebih 300 rb untuk penerbangan ke Singapura dan Kuala Lumpur.

Maka kupilih negeri Kuala Lumpur dengan alasan konyol yaitu ingin melihat mendengar lagu Hafiz Hamdun – Jodoh Berdua langsung di negerinya serta jarak juga ukuran Kuala Lumpur yang lebih besar dibanding Singapura he he.

Perlu diketahui saya untuk tiket ulang-alik alias pulang-pergi menghabiskan 925 rb tetapi itu sudah termasuk pajak bandara serta asuransi.

Setelah menunggu sekitar kurang lebih 7 bulan akhirnya rencana itu terwujud pada bulan Februari 2017 tepatnya dari tanggal 7 – 9.

Jauh sebelumnya juga kami berdua telah bersilaturahmi ke Kantor Imigrasi Bandung yang terletak di Jalan Soekarno Hatta (perlu diketahui juga seharusnya perjalanan ini untuk dua orang namun karena satu hal lainnya menjadi perjalanan seorang diri saja, teman saya berujar katanya sih uangnya habis dipakai cincin tunangan ha ha peace mas).

Waktu itu kantor Imigrasi Jalan Suci sedang ada gangguan, namun alhamdulilah kembali ke Imigrasi Jalan Suci karena kami menggunakan pendaftaran via online.

Namun akhirnya waktunya berdekatan dengan libur Iduf Fitri maka kami memutuskan untuk kembali ke Kantor Imigrasi setelah Idul Fitri.

Singkat cerita setelah bersilaturahmi sebanyak 3x alhamdulilah paspor pun berada di tangan. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan sisa-sisa uang bulanan selama kurang lebih 6 bulan namun akhirnya sia-sia juga akibat keperluan sehari-hari stttt hehe.

Namun akhirnya terkumpul juga pada satu bulan menjelang keberangkatan, oke uangnya sudah terkumpul maka selanjutnya adalah memesan penginapan.

Pilihan saya jatuh pada sebuah hostel bernama PODs The Backpacker Home Kuala Lumpur yang terletak di Jalan Thambipillay, Brickfields (Little India).

Selain karena murah ongkos per malamnya yaitu 30 ringgit untuk kamar model asmara eh asrama dengan kasur tingkatnya juga jaraknya dekat dengan KL Sentral.

KL Sentral adalah pusat moda transportasi umum Kuala Lumpur dengan armadanya antara lain Monorel, KTM, LRT, KL Rapid (bus).

Saya memesan via Agoda karena harganya jatuh lebih murah dibandingkan dengan situs resminya yang mematok tarif 50 ringgit untuk kamar model asramanya.

Karena hanya bisa dibayar via CC maka saya menggunakan jasa gratis Mas Yusuf Efendi untuk booking hotel via Agoda, saya pikir ini semacam penipuan ternyata asli gratis dan terpecaya yang bisa di cek di sini.

Paspor oke, tiket siap, hotel beres…oh iyah tinggal menyusun itinerary. 

Dalam menyusun rencana perjalanan saya sadar hanya memiliki waktu murni untuk jalan-jalan kurang lebih 20 jam saja karena :

Hari Pertama =   8 jam (tiba di hotel pukul 3 sore)

Hari Kedua     = 12 jam

Hari Ketiga     =   0 jam (karena mendapat penerbangan pagi pukul 6)

Maka saya hanya menargetkan objek-objek favoritnya seperti Menara Kembar Petronas, Jalan Alor, Batu Caves, Bukit Bintang (kenyataannya numpang lewat he he).

Lalu lanjut Dataran Merdeka, Taman Tasik Perdana, Masjid Negara, Central Market, Masjid Jamek. Yah, pait-paitnya foto di Menara Kembar supaya engga dibilang boong ha ha.

Hari Pertama 

Masjid Negara > Menara Kembar Petronas > Jalan Alor > KL Sentral > Hotel

Mendapatkan penerbangan pukul 08.30 dari Bandung bearti harus berada di gerbang keberangkatan sebelum dua jam waktu keberangkatan alias pukul 6 pagi.

Ini juga pengalaman pertama untuk terbang dari Bandara Husein karena sebelumnya hanya dari Jakarta, bisa di lihat artikelnya di sini.

Selama di Bandara Husein saya bertemu dan mengobrol dengan seorang bapak berusia 50-an yang pada awalnya saya mengira seorang warga negara Malaysia karena logat melayu tetapi ternyata dia orang Rancaekek yang telah lama bekerja di sana kurang lebih 30 tahun.

Beliau menceritakan kisah awal mulanya ke Malaysia, sampai akhirnya bertemu sang istri yang ternyata orang Rancaekek – Kab. Bandung.

Sang istri memang telah kembali bermukim di Indonesia namun beliau masih bekerja di Malaysia dan rutin mudik ke Bandung setiap per dua bulannya.

Aslinya sih naik Air Asia, ceritanya pengen foto Gunung Tangkuban dari Bandara Husein

Setelelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam akhirnya walaupun disambut dengan hujan pesawat dengan mulus menyentuh landasan KLIA2 pada pukul 11.30 atau 12.30 waktu Kuala Lumpur (GMT+8).

Langkah awal setelah tiba di bandara adalah mengganti kartu telepon terlebih dahulu. Sebelum imigrasi terdapat empat  provider yang menawarkan kartunya namun antriannya cukup panjang sehingga membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk membeli serta mengganti kartu.

Untuk saran lebih baik membeli kartu telepon selepas imigrasi karena terdapat juga toko provider yang lebih luas serta sepi. Saya sendiri memlih provider Digi berharga 30 ringgit dengan kuota 2 Gb.

Ternyata hanya bertahan sepanjang 1 hari saja karena di sana melakukan video call sehingga boros kuota sehingga terpaksa melakukan pengisian pulsa sebanyak 10 ringgit yang dibeli di Seven Eleven, lalu mempaketkannya skema 2 Gb untuk weekend.

Dari KLIA2 menuju KL Sentral saya lebih menggunakan bus operator Aerobus yang hanya bertarif 11 ringgit dibandingkan dengan Kereta bandara KLIA Express bertarif 50 ringgit untuk sekali jalannya.

Tetapi memang hanya membutuhkan 30 menit untuk mencapai KL Sentral sedangkan bus sendiri membutuhkan 1 jam. Untuk pembelian tiket terletak pada Transportation Hub yang berada pada Level 1 gerbang KLIA2, sedangkan untuk jadwal pemberangkatan bus dapat diliat di sini.

KL Sentral

Hal yang pertama kali dilakukan setelah tiba di KL Sentral adalah memotret lalu membuka Google Maps untuk menentukan arah menuju hostel.

Namun karena sebelumnya pernah menonton YouTube dari pihak hostel yang memberikan arahan singkatnya untuk menuju ke sana jadi sedikit terbayang juga harus melangkahkan kaki ke gerbang mana.

Singkat cerita setelah berjalan kurang lebih 300 meteran lah maka tiba juga di hostel, setelah check-in lalu diberi arahan singkat tentang arah menuju kamar tiba juga di kasur. Tapi harus tau diri juga karena model kamarnya berbentuk asrama lalu kasurnya juga bertingkat.

Kasur Nomor 3, Padahal Enak di Bagian Bawah

Pemandangan Jalan Thambipillay dari Arah Hostel

Setelah menyimpan baju, makan siang  serta membeli peralatan mandi di minimarket sebelah hostel (yaps karena pihak hostel hanya menyediakan handuk saja) saya berangkat menuju Masjid Negara sekalian sholat Ashar juga sih.

Dari hostel saya berjalan kembali menuju KL Sentral tidak melalui jalan raya tetapi memotong ke Nu Sentral Department Store dan karena memiliki anggapan kurang greget kalo engga tersesat.

Alhasil sok tahu dan untungnya tidak tersesat namun jalannya melambung untuk mencapai KL Sentral padahal saya ceroboh karena mengindahkan papan petunjuk, yah pelajaran sih.

Untuk menuju ke Masjid Negara sebenarnya jaraknya dekat dari hostel cuman yah kapan lagi bisa naik transportasi umum yang bagus kaya di pilem-pilem he he.

Maka dari KL Sentral saya menaiki KTM alias KRL (Jabodetabek) alias KRD (Bandung Raya) alias Pramex (Yogya – Solo), ongkosnya 6 ringgit dengan waktu tempuh 3 menit karena saking dekatnya.

Stasiun Kuala Lumpur

KTM @Stasiun Kuala Lumpur

Dari Stasiun Kuala Lumpur menuju Masjid Negara jaraknya kurang lebih 200 m karena memutar melewati jembatan penyebrangan khusus lalu kembali menyebrang dengan menggunakan terowongan.

Jembatan Penyebrangan Menuju Masjid Negara

Kok Terowongannya Bersih Yah?

Masjid Negara ini sebenarnya berdekatan dengan komplek taman yang di dalamnya terdapat Museum Kesenian Islam Malaysia, Museum Polis Diraja Malaysia, Taman Kupu-Kupu, serta Taman Tasik Perdana.

Akhirnya Tiba Juga di Masjid Negara

Tampak Menara Masjid Negara

Halaman Samping & Menara Kuala Lumpur Dari Kejauhan

Adeem euy!

 

Punten Ah Nyepam :3

Mesjid Negara

Buat para wanita yang menggunakan pakaian terbuka pihak masjid juga menyediakan semacam mukena instan, jadi tak perlu khawatir untuk dapat berjalan-jalan lalu mengambil beberapa foto di area seputaran teras masjid.

Setelah mengambil beberapa gambar lalu sholat Ashar saya segera berangkat menuju Menara Kembar Petronas yang berada di daerah KLCC menggunakan Grab karena yang jaraknya menurut Google Maps sih 5.5 km dengan waktu tempuh waktu itu 17 menit dengan ongkos 11 ringgit.

Karena waktu itu bertepatan dengan jam pulang kantor jalanan lumayan padat walaupun berhenti itu gara-gara lampu merah juga karena perlu diketahui posisinya berada di semacam distrik segitiganya Ibukota Jakarta.

Tapi bukan macet parah kaya di Bandung apalagi Jakarte yang bisa jadi tempat ajang melatih kesabaran diri he he. Tujuannya pake Grab sih supaya bisa meninjau tempat besok yang mau dikunjungi seperti Dataran Merdeka yang ternyata jalan dari Masjid Negara cuman 7 menit.

Menara Kembar Petronas keliatan juga di depan muka sendiri, setelah termenung sebentar sambil mengingat karena waktu masih bocah taunya dari papan monopoli ha ha.

Asli Motret Sendiri Bukan Googling

Jogging Track nya Nyamann

Asiknya Duduk Sama Kekasih yah hmm

Dari Arah Taman KLCC

Pertunjukkan Air Mancur

Setelah puas berkeluyuran di Taman KLCC saya melanjutkan perjalanan hari itu ke Alor Street Food Night Market untuk icip-icip sambil menikmati suasanan keramaiannya.

Dari KLCC saya menggunakan KL Rapid dengan jurusan Bukit Bintang yang bayar percuma alias gratis yaps beneran gratis asal kamu naik bus berstiker bayar percuma di kaca depannya.

Gara-gara mendengar sepasang bule mau ke Chinatown saya berpikir pasti mereka juga mau ke Jalan Alor. Alhasil saya pun mengikuti mereka turun pada Jalan Raja Chulan.

Sial rupanya turun terlalu awal, alhasil harus berjalan menembus mal Pavilion Kuala Lumpur yang terkenal sebagai tempat berbelanja barang-barang bermerk.

Jalan Raja Chulan

Berhasil menembus mal tibalah pada Jalan Bukit Bintang yang di mana sebenarnya saya cukup berjalan lurus lalu belok kanan tetapi saya terkecoh oleh sebuah perempatan besar, setelah bertanya kepada seorang kasir Seven Eleven akhirnya tiba juga.

Tips nih buat para wisatawan muslim karena di sana sebagian besar menyediakan makanan laut dan masakan Cina ada baiknya berhati-hati memilih makanan, pilih warung makan dengan label halal supaya aman.

Tapi waktu itu saya makan di warung orang India dan di sana ada bacaan halal dan tertulis tidak menyediakan minuman alkohol, yah Insya Allah amanlah.

Saya memesan sotong lada hitam + nasi + air botol mineral dengan total 15 ringgit, rasa-rasanya sih kurang gurih mungkin gak pake micin kali yah yang biasanya di Bandung satu mangkok baso aja micin nya satu sendok teh…dasar generasi micin ha ha.

Jalar Alor

Malam Yang Panjang

Perut telah kenyang yang mengakibatkan mata terasa berat, wah ini sebuah pertanda untuk mengakhiri malam ini dengan mandi air panas lalu tidur. Dari Jalan Alor untuk mencapai KL Sentral cukup berjalan sebentar ke arah Stasiun Monorel Bukit Bintang.

Sebenarnya ada kejadian lucu saat membeli tiket, karena pada Stasiun Bukit Bintang tidak terdapat loket penjualan tiket maka hanya ada vending ticket saja.

Yang jadi masalah saat itu uang saya berupa 10 ringgit dan tidak ada recehan sama sekali. Karena panik jam sudah menunjukkan pukul 23.00, saya kembali menuruni tangga stasiun untuk menukarkan uang.

Saya mencari kios makanan atau apapun tapi lupa di Malaysia jarang ada kios rokok macam di Indonesia, setelah berpikir sejenak kembali menaiki eskalator stasiun untuk yah pait-paitnya minta receh sama orang-orang yang beli tiket juga.

Ada seorang lelaki usia belasan tahun yang akan membeli tiket, ku sapa saja secara sopan untuk meminta receh namun tiba-tiba terlintas pertanyaan di mana tempat mendapatkan uang recehan.

Dengan santai dia sebelah sana menunjuk pada loket yang kupikir telah tutup. Kampret itu tempat ternyata buat nukerin duit jadi recehan ha ha ha.

Stasiun Bukit Bintang

Begitulah cerita untuk hari pertama, untuk cerita hari kedua dan hari ketiga tinggal lanjut di sini Melancong ke Kuala Lumpur (Hari Kedua & Ketiga).