Yuki ZR

Handgloves

Melancong ke Kuala Lumpur

Hari Kedua

Batu Caves > Taman Tasik Perdana > Dataran Merdeka > Central Market > Stasiun Pasar Seni > Hostel (Simpen Oleh-Oleh) > Masjid Jamek

Saat terbangun saya pikir ada di kamar rumah ternyata bukan, oh iyah lagi cuti buat liburan nih hehe. Kebetulan adzan shubuh di Kuala Lumpur jatuh pada pukul 06.00.

Jadi enak banget untuk ukuran orang yang hidup di Waktu Indonesia Barat yang terbiasa shubuh jam 04.00 / 04.30. Enaknya abis sholat langsung mandi terus jalan-jalan nih tapi sebentar batere hp harus di isi dulu soalnya malem kelupaan.

Berleha-leha di atas kasur makan roti twiggies coklat yang rasanya pas engga terlalu manis sambil melototin Instagram, Google Maps eh ketiduran dan rupanya pas bangun udah jam 07.45 langsung aja loncat untuk mandi.

Pemandangan Pagi di Samping Hostel

Untuk menuju Batu Caves yang terletak kurang lebih 13 km sebelah utara KL saya kembali menumpang KTM dari KL Sentral dengan tarif kalo tidak salah 8 ringgit dengan waktu tempuh 30 menit.

Tidak Sengaja Terbawa

Batu Caves adalah sebuah tempat kuil Hindu di luar India yang paling populer, terkenal dengan patung Dewa Murugan setinggi 42.7 m (kata Wikiwand).

Kebetulan saat di sana suasananya sangat ramai ternyata sedang berlangsung Festival Thaipusam yang jatuh pada akhir Januari / awal Februari.

Makanan, buku, poster, peralatan ibadah, sampai tukang ramal juga ada pokoknya untuk sementara suasananya persis kaya di negara film Kuch Kuch Hota Hai alias India he he.

Deretan Pedagang

Keramaian Festival

Kendi Logam Berisi Susu

Anak-Anak Pun Ambil Bagian

Ritual

Pemandangan Dari Atas

Sebenarnya masih ada lagi foto-foto dari Batu Caves nanti saya buat artikel foto essainya.

Puas menikmati suasana meriah ala India, saya ingin menyepi ke Taman Tasik Perdana yang berada di dekat Masjid Negara. Selepas Dzuhur saya pun berjalan menuju Taman Tasik Perdana dengan berjalan kaki yang ditempuh selama 15 menit.

Benar saja mungkin karena datang siang hari pada hari kerja tamannya sangat sepi bahkan setelah 30 menit pertama selepas memasuki gerbang, taman tersebut benar-benar kosong melompong.

Duduk di pinggir danau sambil menikmati keheningan taman adalah hal sesuatu yang mustahil di Bandung ha ha.

Memasuki Taman

Tempat Duduk Di Siang Itu

Cityview

Perut mulai keroncongan saat mencari tempat makan, kebetulan di taman ini ada sebuah warung yang sebenarnya mirip kafe karena suasananya yang ciamik tetapi harganya warteg.

Siang itu saya membeli sebungkus nasi lemak tetapi layak dikatakan nasi kucing karena porsi serta lauknya yang sederhana karena sang nasi hanya berteman dengan ikan teri, sambal, serta telur rebus lengkap dengan kuah khas nasi lemak.

Tak apa yang penting murahhh karena cuman 1 ringgit 50 sen, ditambah air mineral botol yang sama harganya. Total makan siang hari itu hanya menghabiskan 3 ringgit saja atau setara 9 ribu rupiah, murah meriah.

Pemandangan Saat Makan Siang

Beres makan siang saya melanjutkan perjalanan ke Dataran Merdeka, sebuah tempat yang wajib dikunjungi bila melancong ke kota Kuala Lumpur.

Sebenarnya kawasan ini merupakan kawasan kota tua peninggalan dari Inggris. Jarak dari Taman Tasik Perdana sekitar 25 menit dengan berjalan kaki.

Untungnya berjalan kaki di kota ini sangat nyaman, bahkan fasilitas untuk penyandang disabilitas pun terbilang baik karena guiding block serta lift ada di tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal, mal, serta penyebrangan jalan.

Hal yang terpenting adalah berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam memfasilitasi penyandang disabilitas kita memang selangkah tertinggal.

Fotoin Orang Dulu, Baru di Fotoin

Gedung Sultan Abdul Samad

Hal yang tak boleh dilewatkan pada jika mengunjungi kawasan ini adalah masuk ke Kuala Lumpur City Gallery, sebuah galeri yang menceritakan riwayat perkembangan Kuala Lumpur dari ditetapkan namanya, berlanjut hingga saat ini, hingga rencana selanjutnya.

Karena saya ingin melihat pertunjukan KL City Model maka membeli tiket seharga 5 ringgit yang nanti tiket ini dapat dijadikan potongan diskon sebesar 5 ringgit ketika akan membeli oleh-oleh di sana. KL City Model adalah sebuah pertunjukkan pada sebuah ruangan gelap yang di dalamnya terdapat miniatur kota Kuala Lumpur.

Lalu sebuah pertunjukkan video mapping di mulai sambil beriringan dengan sebuah video yang diputar di tengah ruangan menceritakan sejarah kota, perkembangannya, hingga visi ke depannya. Ciamik deh pokoknya!

Kuala Lumpur City Gallery

Pose Wajib Dulu

Tiket Masuk

Menarik Yah Iklannya Hihi

Miniatur KL 

Setelah puas menikmati kawasan Dataran Merdeka maka hari itu saya kembali melanjutkan perjalanan ke Central Market. Jaraknya hanya 15 menit saja dengan berjalan kaki, oh iyah Central Market merupakan salah satu sentra oleh-oleh Kuala Lumpur di sana kamu bisa membeli makanan ringan, pernak-pernak khas KL, dan kaos-kaos.

Saya sengaja tidak membeli kaosnya karena harganya muahal, 90 ringgit untuk satu kaos? Tidak terima kasih karena dengan jumlah uang yang sama saya mendapatkan camilan ringan, coklat, serta teh tarik juga tak lupa refrigerator magnet yang hasilnya adalah satu buah keresek yang besar ha ha.

Central Market

Oleh-oleh sudah tersedia saatnya kembali terlebih dahulu ke hostel untuk menyimpan barang bawaan sebelum nanti malam melanjutkan perjalan ke Masjid Jamek sekalian Isya juga di sana.

Dari Central Market menuju ke hostel saya menggunakan LRT dari Stasiun Pasar Seni, jaraknya kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki. Sial, lupa saya berbarengan sama jam pulang kantor. Alhasil saya melewatkan kereta pertama karena tak ruang sama sekali untuk masuk, untuk kereta kedua saya paksakan saja.

Tiba di KL Sentral saya teringat di terminal bus menuju bandara terdapat sebuah wrapping tas, saya gunakan jasanya supaya enak nanti membawa ke dalam kabin pesawatnya. Harganya hanya 10 ringgit, lumayan juga sih tapi tak apalah.

Platform Station Pasar Seni

Setelah menyimpan barang-barang saya melanjutkan kembali jalan-jalan ke Masjid Jamek kembali menggunakan LRT dari Stasiun KL Sentral menuju Stasiun Masjid Jamek yang letaknya persis di depan stasiun.

Masjid Jamek adalah masjid tertua di Kuala Lumpur, letaknya persis di pertemuan antara Sungai Klang dan Sungai Gombak.

Persimpangan Sungai Klang dan Sungai Gombak

Masjid Jamek adalah destinasi untuk perjalanan kali ini, karena hari ketiga saya mendapatkan penerbangan pagi pukul 06.00.

Hari Ketiga

Hostel > KL Sentral > Bandara KLIA2

Karena mengejar penerbangan pagi saya pergi ke KL Sentral pada pukul 2.30 pagi, saya pikir suasananya akan sepi senyap ternyata ramai. Langsung saya menuju terminal KL Sentral yang terletak di bagian paling bawah, nampaknya loket tiket bus buka terpaksa saya menunggu.

Menurut para supir taksi akan di buka pada pukul 3 tetapi ternyata molor hingga 3.15, antrian pun mulai mengular untungnya saya ada di urutan kedua dari depan.

Sial, gara-gara baru buka mereka tak punya uang recehan sehingga saya disuruh untuk mengantri kembali karena uang saya saat itu 20 ringgit sedangkan ongkos hanya 12 ringgit. Jadi pelajaran nih buat perjalanan berikutnya untuk selalu sedia receh untuk transportasi umum.

Akhirnya bus pun melaju pada pukul 3.40 pagi, lalu tiba di Bandara KLIA2 sekitar pukul 4.30 pagi waktu setempat. Karena Bandara KLIA2 itu panjang serta luas jadi saya sarankan untuk membawa trolley.

Dan benar saja dari pintu masuk hingga duduk persis pada gate counter saya membutuhkan waktu kurang lebih 25 menit. Dan sempat bertanya pada bagian informasi karena banyak sekali gate. 

Pesawat akhirnya lepas landas sekitar pukul 06.10 dari Kuala Lumpur, sebenarnya pada penerbangan kali ini saya hampir saja mabuk udara karena tak tahan dengan turbulensinya untung saja tidak Jackpot, Alhamdulillah he he.

Mungkin penyebabnya adalah duduk di kursi dekat lorong, karena pernah sebelumnya duduk di dekat jendela aman aman saja. Setelah dua jam perjalanan pesawat dengan mulus mendarat di Bandara Husein Sastranegara.

Touch Down Bandung

Terima kasih telah membaca sampai sejauh ini, semoga sedikit menambah motivasi untuk para calon pengelana antar negara hi hi.